Pages

Sabtu, 06 Februari 2010

Lanjutkan,,,

Uang rakyat untuk:
1.Bangun Istana kepresidenan dan wapres yang udah rusak =22, sekian M
2.Beli pesawat kepresidenan =200 M
3.Beli mobil mentri =1.3 M/unit
4.Naikan gaji presiden dan wapres beserta pejabatnya =Belum tau
5.Kapal untuk periksa terumbu karang =12 M

Setelah ini semua apa lagi?
Mau nambah jumlah apa lagi?
santai aja.Uang rakyak masih banyak kok dan cukup untuk itu semua.

KABINET MAKIN GEMUK..

Dari zaman orde baru sampe sekarang kayaknya jumlah pejabat baik mentri maupun yang setaranya terus naik.
Yang udah pasti digaji dong.Pake duit sapa gajinya?Ya pake duit rakyat lah.
Terus apa aja kerjanya?Ya duduk nunggu kalau diperlukan.Kalau nggak diperlukan gimana? Ya duduk aja.Kan ada kantor kalau nggak ya jalan-jalan pakai mobil yang 1,3 M.
Kan nggak perlu beli bensin.Semua difasilitasi oleh warga negara Indonesia yang pada baik semua.

Jumat, 29 Januari 2010

Apalah arti100 hari?

Telah 100 hari lebih 1 hari negeri ini dipimpin oleh kabinet Indonesia bersatu II.
Fasilitas telah diberikan pada kabinet yang banyak dari partai bukan dari profesional.
Mobil yang lebih dari 1 M sampai kenaikkan gaji.Tapi apakah sudah terbukti kinerjanya?
Sekarang malahan ada wakil menteri yang tak banyak bekerja tapi terus digaji.
Tadi juga lihat di tv bahwa 2011 pesawat kepresidenan ganti.Pakai uang siapa itu dibeli?
Pakai uang rakyak lah.Nggak sebanding banget dengan apa yang di berikan bapak presiden untuk rakyat.

Sabtu, 12 Desember 2009

Uneg-uneg

"santai kawan-kawan.Kita aksi damai".
masih ingat nggak dengan pernyataan itu?Bagi sebagiaan masyarat mengetahui akan kalimat itu.Itu adalah kalimat saat dimana ribuan masa berdemo ketika hari anti korupsi dunia terjadi.Tapi toh akhirnya juga massa yang kebanyakan dari golongan mahasiswa ricuh dengan polisi.Katanya nggak ditunggangi kok bisa terjadi itu semua?"MUNGGKIN" nggak ditunggangu tapi disusupi.

"mari kita simak korupsi menurut para artis"
artis lagi-artis lagi.apa nggak ada yang lebih baik daripada artis di Indonesia ini?Artis yang katanya korban daripada KDRT di negara tetangga menulis tentang korupsi di blog pribadinya.Eh nggak taunya masuk tv nggak ada habisnya.Sedangkan orang yang lebih khusus pada bidangnya nggak ada tu yang mau wawancara.

Senin, 30 November 2009

Teknologi & Roket LAPAN : Indonesia Siap ke Luar Angkasa


Pada tanggal 2 Juli 2009, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau LAPAN sukses meluncurkan Roket RX-420. Roket RX-420 adalah Rocket eXperiment berdiameter 420 milimeter (0.42 meter) yang dibuat dan didesain oleh putra-putri terbaik bangsa di LAPAN. Proyek roket ini merupakan bagian dari proyek besar LAPAN membawa satelit ke orbit yang biasa disebut sebagai Roket Pengorbit Satelit (RPS). Rencananya LAPAN akan mengorbitkan satelit kelas nano yakni satelit bermassa 5 kg.

Untuk digunakan sebagai peluncur satelit, LAPAN mengembangkan RPS 4 tingkat. RPS 4 tingkat ini terdiri dari dari 6 unit roket yakni 5 roket RX-420 sebagai roket pendorong dan satu roket utama RX-320. Hingga saat ini, LAPAN sudah berhasil membuat sekurang-kurangnya 16 unit roket yakni 1 unit RX-250, 3 unit RX-150, 3 unit RX-100, 3 unit RX-70, 4 unit RX-70 FFAR, 1 unit RX-320 serta terakhir adalah RX-420.

Sebelum Juli 2009, 19 Mei 2009, LAPAN telah sukses meluncurkan roket RX-320 di kawasan Pameungpeuk, Garut- Jawa Barat. Selain bekerja sama dengan sejumlah lembaga dan departemen lokal seperti LIPI, PT DI, PT Pindad, Dephan-TNI dan BPPT, LAPAN juga bekerja sama Technical University of Berlin (TUBerlin). Kerjasama dengan Tuberlin telah menghasilkan satelit pengamatan bumi yang diberi nama Lapan-TUBSat. Satelit tersebut merupakan satelit jenis mikro yakni satelit dengan bobot 50 kg. Satelit mikro tersebut telah diorbitkan pada tahun 2007. Untuk kepentingan Indonesia, LAPAN akan membuat satelit ekuatorial yang akan memiliki waktu orbit di atas wilayah Indonesia lebih lama yaitu tiga jam pada siang hari dengan tiga stasiun bumi.

Ini artikel aku ambil dari:http://nusantaranews.wordpress.com/2009/07/20/teknologi-roket-lapan-indonesia-siap-ke-luar-angkasa/

TNI AL-LAPAN Kembangkan Rudal Nasional

Markas Besar TNI Angkatan Laut dan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) akan mengembangkan dan membuat peluru kendali (rudal) nasional. Rencananya, rudal darat ke darat sejauh 20 kilometer ini akan diproduksi pada tahun 2006-2007 mendatang.

Rencana pembuatan peluru kendali tersebut diungkapkan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh dan Kepala LAPAN Mahdi Kartasasmita kepada wartawan usai penandatangan MoU kerja sama pembuatan rudal di Mabes TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (7/2/2005).

Menurut Bernard, pengembangan dan pembuatan rudal nasional ini sagat penting, karena selama ini Indonesia memiliki sejumlah roket dan rudal yang dibeli dari luar negeri, khususnya dari AS dan Perancis. Namun karena terjadinya embargo sejumlah peralatan tempur, kemampuan militer menjadi lumpuh.

"Untuk itu, kita mengawali untuk mencoba memproduksi sendiri. Masalah data dan kemampuan rudal tentunya untuk sementara belum bisa dibuka," jelasnya.

Pembuatan rudal, jelas Bernard, tidak dalam konteks untuk upaya offensif, tapi pertahanan negara kesatuan dari ancaman luar. Sebenarnya, lanjutnya, pembuatan rudal ini akan disandingkan dengan empat kapal korvet (kapal cepat) yang dibuat TNI AL dan PT PAL di Fasilitas Sarana dan Perbaikan TNI AL di Surabaya, yang dibuat pada tahun 2005 ini.

Rudal ini nantinya akan menjadi senjata utama keempat kapal korvet yang masing-masing panjangnya 40 meter.

"Kita tentunya tidak membuat hanya asal senjata tok, tentunya sudah dalam masuk program pelatihan awal, pelatihan teknologi dan penggunaannya. Sedapat mungkin semuanya kita kerjakan di sini, kalau pun terpaksa ada dari luar kita transper teknologi," jelas Bernard.

Termasuk transfer teknologi rudal dengan Cina, di mana TNI AL juga membuat kontrak kerja dengan negara tirai bambu itu. Dalam proyek ini, tidak hanya melibatkan LAPAN saja, tapi juga lembaga lainnya seperti PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia (DI), Lembaga Atom Nasional (LAN) sesuai bidang masing-masing.

Hanya saja, Bernard belum bisa menjelaskan jumlah rudal yang akan diproduksi di dalam negeri. Tentunya ada tahapan dalam memproduksi rudal, seperti tahapan penelitian dan pengembangan terlebih dahulu. "Untuk pengembangan saja ada tahapannya, tidak langsung produksi. Untuk langsung produksi mungkin tahun 2006 atau 2007, tahun ini pengembangan," jelasnya.

Bernard mengatakan, untuk alokasi anggaran pengembangan rudal nasional itu sekitar Rp 25 miliar dalam dua tahap. Uji coba akhir kemungkinan baru pada akhir tahun 2006 atau awal 2007. "Jadi butuh wajktu dalam 10 tahun ke depan. Jadi kalau saya ditanya berapa produksi, saya belum bisa katakan, karena ini masih dalam tahap pengembangan," jelasnya.

Peluru kendali anti permukaan (darat) biasanya berjangkau di atas 20 mil/km. Sementara itu, Mahdi Kartasasmita membenarkan rencana pengembangan dan pembuatan rudal nasional yang dinamakan Rudal Sondakh itu. Menurut Mahdi, rudal nasional tersebut akan diaplikasikan untuk TNI AL dalam meningkatkan kemandirian masalah pertahanan.

"Jadi ini tidak ada konotasi untuk agresi ke luar. Kita lembaga sipil untuk membantu TNI AL semata-mata dalam rangka pertahanan negara," jelas Mahdi.

Dalam proyek ini, menurut Mahdi, perlu ada penyesuaian bukan hanya di bidang hardware saja, tapi juga secara kelembagaan dan SDM. "Ini usaha integrasi kekuatan usaha nasional. Kegiatan ini untuk menyatukan usaha di dalam negeri," jelasnya.

Mahdi menjelaskan, LAPAN sendiri sebenarnya sudah membuat roket dengan berbagai ukuram seperti 250 mili diameter, 150 mili diameter dan 70 mili diameter. Kerjasama juga pernah dilakukan dengan TNI AU untuk merubah bahan bakar roket ukuran 70 mili diameter. Jadi, jelas Mahdi, bahan-bahan untuk membuat rudal nasional ini sebenarnya sudah ada, bukan sama sekali dari nol.

Rencana pengembangan dan pembuatan rudal ini menurut Bernard sudah dikomunikasikan kepada pihak Departemen Pertahanan. Untuk itu, soal pendanaan pengembangan rudal ini juga atas sepengetahuan pihak Dephan.

Sumber : detik.com

Segera Hadir, Rudal Produksi Indonesia

VIVAnews - Dalam waktu dekat Indonesia akan memiliki rudal atau peluru kendali buatan dalam negeri. Menteri Pertahanan, Juwono Sudarsono mengatakan Departemen Pertahanan sudah memulai riset tentang rudal.

"Departemen Pertahanan telah merintis pengembangan roket menjadi rudal atau peluru kendali," kata Juwono dalam rapat dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, Senin 23 Februari 2009.

Saat ini, kata dia, departemen bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sedang mengembangkan roket kaliber 70 milimeter sebagai roket militer yang dilengkapi hulu ledak. " Lapan telah berhasil mengembangkan roket dengan berbagai kaliber diantaranya kaliber 70 milimeter dan 122 milimeter. Sebelumnya roket Lapan adalah roket ilmiah untuk keperluan nonmiliter," tambah Juwono.

Departemen juga bekerjasama dengan PT Pindad, pabrik senjata dalam negeri, melakukan penelitian hulu ledak kaliber 122 milimeter. Roket yang sedang dikembangkan, tambah Juwono, adalah roket dari tanah ke tanah (ground to ground) maupun dari udara ke tanah (air to ground). "Departemen juga melakukan penelitian tentang penguatan materi energi yang bersifat eksplosif dan protelan," tambah dia.

Penelusuran VIVAnews, ide produksi rudal dalam negeri mulai tercetus tahun 2005. Dana sebesar Rp 2,5 miliar digelontorkan untuk proyek pembuatan rudal pada tahun itu.

Ide pembuatan rudal dalam negeri bermula dari lumpuhnya persenjataan Indonesia saat Amerika Serikat memberlakukan embargo senjata pasca tragedi Santa Cruz, Timor Leste tahun 1992. Maklum, mayoritas persenjataan milik Indonesia diimpor dari negara lain.

Jangankan mempertahankan diri, embargo membuat TNI konon tak bisa beraksi dari udara ketika bencana tsunami terjadi. Sebab, Hercules C-130 banyak yang rusak. Spare-part tak ada karenaembargo.

Meski embargo telah dicabut, kesadaran untuk memiliki kemandirian persenjataan dan mengurangi ketergantungan terhadap bangsa lain, menguat.

Industri roket bukan barang baru bagi Indonesia. Lapan pertama kali berhasil meluncurkan roket pada 14 Agustus 1964, pada masa kepemimpinan Soekarno. Roket pertama itu dinamai Kartika.

sumber: http://nasional.vivanews.com/news/re...i_dalam_negeri

TNI AL PERKUAT KAPAL PERANG BUATAN PT PAL

TNI AL kembali memperkuat armadanya dengan kapal perang baru produksi putra-putri Indonesia dari PT PAL Surabaya. Kapal perang tersebut bernama KRI Banjarmasin-592 jenis LPD (Landing Platform Dock), dan pada Sabtu 28 November 2009 di Dermaga Divisi Kapal Niaga PT. PAL Ujung Surabaya diresmikan oleh Menteri Pertahanan RI Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro.

Turut hadir pada acara peresmian tersebut Kasum TNI Laksamana Madya TNI Y. Didik Heru Purnomo, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Agus Suhartono, SE, pejabat teras Dephan dan Mabesal, serta para Panglima Komando Utama TNI Angkatan Laut. Upacara peresmian ditandai dengan kegiatan penyematan tanda pangkat dan jabatan Komandan KRI Banjarmasin-592 oleh Menhan RI kepada Letkol Laut (P) Eko Jokowiyono sebagai komandan KRI Banjarmasin-592 yang pertama. Kemudian dilanjutkan dengan pengguntingan pita, peninjauan kapal dan foto bersama yang diikuti oleh seluruh ABK (Anak Buah Kapal) KRI Banjarmasin-592.

KRI Banjarmasin-592 merupakan salah satu kapal perang dari 2 kapal kapal perang jenis LPD pesanan TNI AL yang dibangun di PT PAL Surabaya. KRI Banjarmasin-592 direncanakan akan dioperasionalkan di bawah komando Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil).

Spesifikasi teknis KRI Banjarmasin-592 : Panjang kapal 125 meter, lebar 22 meter, bobot 7300 ton, kecepatan 15 knot, ABK 126 personel ditambah mampu menampung 562 pasukan berikut 5 unit helicopter serta dua LCVP (sekoci pendarat).

Dalam pengarahannya kepada ABK KRI Banjarmasin, Menhan RI berpesan agar kapal ini dipelihara, dijaga dan dirawat dengan baik. “Kita telah mengetahui bahwa kapal ini dibuat dengan uang rakyat, untuk itu saya minta peliharalah kapal ini dengan sebaik mungkin. Baca betul pelaksanaan prosedur tentang pemeliharaan kapal ini, dan secara terus menerus laksanakan latihan. Karena dengan latihan secara kontineu, kita menjadi profesional dan akan mampu untuk menghadapi keadaan darurat,”kata Menhan RI menegaskan.

Ini gue ambil dari:http://www.tnial.mil.id/tabid/61/articleType/ArticleView/articleId/2106/TNI-AL-PERKUAT-KAPAL-PERANG-BUATAN-PT-PAL.aspx